PONPES AT TA'ABBUD

Nih guys, aku ceritain tentang pondok tempat aku menuntut ilmu. hehehehe

Pon.Pes At-Ta’abbud: Tempat yang Kecil Bernuansa Alami
BERKAH GEMPA 2006
             Siapa sangka orang yang baru duduk di bangku SMA memiliki seorang murid yang lebih tua darinya. Beliau yang seharusnya diberi pengetahuan justru memberikan pengetahuan kepada orang yang telah beristeri. Begitulah awal mula Bapak Kyai Drs. Sudarman Masduki memulai kehidupannya sebagai ustadz. Awalnya, beliau menolak permintaan tersebut. Namun, karena beliau dipaksa agar mau mengajarkan ilmu yang dimilikinya, alhasil, beliau mau mengajarkannya dan orang inilah yang menjadi murid pertama dari beliau. Nama murid tersebut adalah Bapak Muji
Beliau ini bertempat tinggal di desa Wonokromo dan asli dari daerah tersebut. Beliau juga memberikan pengajaran kepada muridnya di rumah beliau sendiri. Dengan bentuk bangunan yang sederhana tidak membuat halangan bagi beliau untuk mengajar.
Dengan ketekunan, kesabaran, dan ilmu yang beliau miliki, beliau itu mengajarkan semua yang dikuasainya. Walaupun belum begitu banyak pengalaman dan ilmu yang beliau miliki, namun dibilang cukup untuk membimbing baca Al-Qur’an. Bukan hanya bidang baca Al-Qur’an saja yang beliau kuasai, bidang tata bahasa arab, fiqh, dan akhlaq pun dikuasainya. Walaupun tidak semua beliau kuasai, tentunya.
Seiring berjalannya waktu, santri yang beliau bina pun bertambah. Bahkan ada santri yang berasal dari luar daerah. Padahal, waktu itu beliau baru saja lulus dari SMAnya. Tetapi santri yang beliau bina dibilang cukup banyak sekitar 100 orang.
Setelah beliau menyelesaikan studinya di tingkat SMA, beliau melanjutkan kuliah di IKIP. Selama beliau belajar, beliau juga tidak pernah melupakan murid-muridnya di rumah. Setelah pulang kuliah, beliau mengajar seperti biasa. Hal ini terus berlanjut sampai beliau diwisuda.
Setelah lulus, beliau berinisiatif mencari penghasilan sendiri dengan berjualan buku agar dapat memenuhi kebutuhannya. Sehingga, beliau tidak mengharapakan apa-apa dari para muridnya. Beliau menginginkan agar para santri tidak terbebani oleh biaya dalam menimba ilmu agama. Beliau ikhlas menularkan ilmu yang beliau miliki.
Setelah beberapa tahun beliau menjalani hal semacam ini,beliau pun merasa gundah. Beliau hanya merasa profesi yang dijalankannya sebagai pedagang terlalu banyak menyita waktu. Sehingga beliau pun berganti profesi menjadi guru olahraga di MTsN Wonokromo. Namun, profesi ini pun tidak bertahan lama. Beliau merasakan kebosanan dengan profesi yang dijalaninya sebgai guru olahraga. Keinginan untuk focus dalam mengajar kepada santrinya lebih beliau utamakan daripada hal yang lain.
Kini, terdapat sekitar 250 santri yang beliau bina. Asal santrinya pun bermacam-macam. Ada yang dari luar daerah, seperti Pundong, Gunung Kidul, Klaten, dan Sleman. Bahkan ada juga yang berasal dari pulau lain, seperti Riau, Palembang, Lampung, dan Sulawesi. Mereka semua diberikan fasilitas berupa kamar untuk tempat tinggal mereka. Selainnya, yang ikut dalam kegiatan mengaji adalah warga sekitar.
Bangunan yang disediakan bagi santri yang berasal dari luar daerah tidak begitu mewah, namun cukup untuk menampung mereka. Awalnya, hanya disediakan satu kamar bagi para santri dan menjadi satu rangkaian dengan rumah beliau. Namun demikian, tidak mengurangi ketekunan mereka dalam menuntut ilmu. Dengan keterbatasan yang ada mereka dilatih agar dapat hidup dengan penuh kederhanaan.
 Ketika bencana gempa 2006 silam yang melanda Yogyakarta, bangunan rumah beliau rata dengan tanah, termasuk juga kamar para santri. Untungnya, tidak ada santri yang meninggal dalam bencana tersebut.  Padahal, ketika bencana terjadi sebagian besar santri beliau masih berada di dalam bangunan, dan ketika bangunan runtuh pun masih ada santri yang terjebak di dalamnya. Ajaibnya, hanya dua orang yang menjadi korban dalam bencana tersebut, yaitu seorang santri dengan luka ringan karena tertimpa reruntuhan dan ibu beliau yang luka di bagian kakinya.
Sebab peristiwa itu, dengan sangat terpaksa proses pembelajaran diliburkan sampai waktu yang belum ditentukan karena tidak ada satu bagian bangunan pun yang masih berdiri. Pada saat itu pula banyak santri yang pulang ke kampung halamannya karena factor keamanan. Sehingga hanya tinggal beberapa santri yang masih tinggal untuk membersihkan reruntuhan bangunan. Selang beberapa hari, reruntuhan pun dapat dibersihkan dengan bantuan dari aparat TNI, walaupun belum seratus persen bersih. Kemudian didirikanlah tenda darurat untuk menyimpan barang-barang berharga dan juga tempat santri berteduh. Hal ini berlangsung kurang lebih selama satu bulan.
Setelah dirasa cukup lama santri libur mengaji dan melihat santri yang pulang kampung juga sudah kembali, akhirnya para santri dan juga Bapak Kyai Sudarman Masduki mengadakan kerja bakti untuk membangun kembali tempat mengaji mereka. Dengan rasa gotong royong dan semangat agar dapat mengaji kembali, tempat mereka mengaji pun berdiri lagi. Walaupun hanya terbuat dari potongan bambu dengan beratapkan jerami, ayang penting mereka memiliki tempat untuk dapat mengadakan kegiatan kembali yang beberapa waktu sempat diliburkan.
Keadaan demikian berlangsung selama sekitar satu tahun. Akhirnya, sekitar bulan Mei 2008, mulai didirikan bangunan permanen.  Dana yang didapatkan berasal dari bantuan negara-negar Timur Tengah melalui seorang Kyai dari Malang. Sehingga tidak sepeser pun uang dikeluarkan dari kantong para santrinya. Ini benar-benar murni dari bantuan tersebut. hanya saja wali dari santri bersedekah untuk konsumsi bagi para pekerjanya dengan cara bergilir.
Sekitar akhir tahun 2008, bagunan permanen telah dirampungkan. Bentuk bangunannya  sederhana meliputi satu aula di lantai bawah dan dua kamar di lantai atas. Sehingga bangunan yang baru ini dapat menampung bagi santri yang bermukim dan juga dapat menampung seluruh santri yang mengaji di aula.
Setelah kami selesai mendengarkan pahit manis dari kisah perjalanan Bapak K.H Drs. Sudarman Masduki beserta pesantrennya, kami pun diajak untuk melihat-lihat bagian-bagian bangunan pondok. Sangat sederhana sekali, berbeda dengan pondok yang lainnya yang kami ketahui. Luas bangunannya saja hanya 8 x 15 m2. Namun, santri yang ada cukup banyak dan begitu antusias untuk menuntut ilmu di pesantren ini.

BANDONGAN VS SOROGAN
Setelah kami berbincang-bincang dengan pengasuh pondok tentang seluk beluk pondok, kami meminta izin untuk menemui seorang santri seniornya. Tujuan kami ingin mengetahui bagaimana kondisi para santri dan kegiatan apa saja yang dilakukan. Tak lama kemudian kami pun dipertemukan oleh santri beliau yang bernama Danis Sanjaya. Sayangnya, Bapak Pengasuh tidak dapat menemani kami dikarenakan Bapak Pengasuh akaan mengisi pengajian.
Dari hasil perbincangan, kami mengetahui bahwa tidak santri yang dari luar daerah saja yang bermukim di sana. Ada santri yang berasal dari desa yang sama dengan pondok bermukim di tempat itu. Contohnya santri yang kami ajak bincang-bincang tadi. Dia berasal dari desa Wonokromo juga. Padahal rumahnya tak jauh dari lokasi pondok ini. Dia memilih bermukim di pondok dengan alasan agar dapat hidup lebih mandiri.
Dalam kesehariannya, pondok pesantren ini memiliki segudang kegiatan. Kegiatan tersebut tak lepas dari mengkaji ilmu agama. Metode pengajarannya cukup bermacam. Sehingga tak membuat para santri menjadi bosan di kala sedang mengaji.
Suasananya pun tak kalah menarik. Saat kami menyimak, terkadang terdengar gelak tawa yang membuat suasana ceria. Terkadaang pula suasana begitu serius karena yang di bahas memang begitu penting untuk disimak dengan baik. Yang kami liat, suasana di pondok ini tidak terlalu kaku dalam pembelajarannya. Tujuannya agar apa yang diperoleh santri dapat menancap di hati mereka sehingga mereka dapat mengamalkan ilmu-ilmu mereka. Hal ini diperkuat oleh tendensi yang kami dapatkan dari salah seorang santri. Menurutnya ketika hati dan pikiran terlalu serius dan kaku maka ilmu yang dijarkan akan sulit untuk masuk. Namun,ketika hati dan pikiran terasa santai, maka ilmu apa pun yang diajarkan akan cepat difahami dan mudah masuk ke dalam hati mereka.
Bandongan,  merupakan salah satu metode dalam mengaji  dalam pondok salafy. Metode ini kurang lebih seperti  komunikasi dua arah, yaitu antara kyai dan santri bertatap muka langsung saat proses belajar-mengajar. Sang Kyai memberikan wejangan yang terdapat dalam kitab yang sedang dikaji, sedangkan para santri medengarkan apa yang dipaparkan oleh Kyainya. Ketika ada satu santri yang belum paham, maka diperkenankan untuk bertanya.
Sehari sekali, metode ini digunakan dalam mengembangkan keilmuan para santri di Pondok Pesantren At-Ta’abbud tepatnya, ketika usai adzan Isyak. Sang Kyai memberikan suatu pendalam tentang cabang ilmu agama tertentu. Mereka mengambil materi dari sebuah kitab klasik yang sering disebut Kitab Kuning.
Metode ini  banyak berlaku di kalangan pesantren. Baik pesantren yang salaf ataupun modern. Bahkan, metode ini pun digunakan bagi pendidikan formal, mulai dari SD, SMP, SMU, bahkan sampai tingkat Universitas. Metode ini sangat efektif ketika kita mengambil suatu ilmu dari sebuah referensi yang sulit untuk dijelaskan. Karena dengan metode ini kita bisa bertatap muka langsung antara komunikan dengan komunikator. Sehingga terjadilah komunikasi dua arah yang efektif.
Ada metode lain yang juga sangat terkenal di kalangan Pondok Pesantren, terutama pondok salaf. Metode ini merupakan kebalikan dari metode bandongan, bila metode bandongan santri yang mendengarkan penjelasan kyainya, metode ini kyailah yang mendengarkan santrinya. Satu persatu santri mengantri gilirannya untuk mengaji dihadapan kyainya dan kyai membenarkan bacaan maupun hal lain yang masih belum benar.
Metode ini lah yang digunakan dalam mengaji Al-Qur’an.  Sang kyai mendengarkan apa yang dibaca oleh santrinya. Ketika santri dalam membaca terdapat kesalahan, maka sang kyai menegurnya dan membenarkan bacaannya. Begitu pula ketika terdapat santri yang membaca kitab dengan metode ini. Susunan, bacaan, pemaknaan yang salah dari santri dibenarkan oleh sang Kyai. Metode ini sangat efektif dalam mempraktekkan ilmu yang telah di dapat. Dan metode ini biasa disebut dengan  sorogan.
Setiap pondok pesantren sering menggunakan dua metode ini. Dimaksudkan dari keduanya adalah santri tidak hanya memperoleh materi saja, namun bisa langsung praktek apa yang sudah didapatnya. Sehingga hal ini menandakan bahwa pondok pesantren merupakan pendidikan ilmu dan amal.
Dalam kesehariannya, para santri terbagi dalam dua kelas. Kelas pertama dinamakan kelas Awal. Kelas ini terdiri dari santri yang masih minim pengetahuan agamanya. Tak heran jika dalam kelas ini terdapat santri yang sudah duduk di bangku SMA. Karena pembagian kelas di pondok ini bukan dilihat dari umur mereka, malainkan dilihat dari seberapa jauh dia mengetahui ilmu-ilmu agama. Pelajaran yang diberikan pun tidak terlalu berat, seperti fiqh dasar, akhlak dasar, dan bahasa arab dasar. Sedangkan Kelas Tsani, begitu namanya, terdiri dari santri yang sudah lama tinggal dan dirasa cukup mumpuni untuk memperdalam lagi apa yang telah dia dapatkan di kelas awal. Mereka dibina dan dibimbing lebih dalam agar mereka dapat mengamalkan apa yang telah diperoleh. Lebih tepatnya, mereka dibina dalam bidang praktek, sedangkan kelas awal dibina dalam bidang teorinya.
Kegiatan yang diadakan pondok ini cukup padat. Hanya saja kegiatan tersebut dimulai ketika sudah masuk waktu maghrib. Ketika adzan maghrib berkumandang banyak anak-anak yang berdatangan. Ada yang diantar oleh orang tua mereka, ada yang berjalan kaki, dan ada juga yang naik sepeda. Jumlahnya pun cukup ramai, jika dikalkulasi sekitar 50 anak yang datang. Mereka semua berasal dari desa setempat. Setelah mereka berkumpul, diadakan shalat maghrib berjamaah dan dzikir setelah shalat. Hal ini dilaukan agar sang anak terbiasa melakukan shalat dengan berjamaah dan terbiasa juga dengan dzikir setelah sholat.
Setelah ritual shalat selesai, mereka langsung berbaris rapi dengan kaki bersilamenunggu giliran mereka mengaji. Yang kami herankan, setelah shalat maghrib ini masih banyak santri yang berdatangan. Mereka semua terbagi dalam beberapa tingkatan. Ada yang sudah mengaji Al-Qur’an, ini lah yang langsung di ina oleh Bapak Pengasuh. Ada juga tingkatan iqro’ dan juz ‘amma, mereka ini di bina oleh santri yang sudah senior. Pada saat ini terdengar suara orang-orang yang mengaji saling bersahutan yang dapat menentramkan hati.
Ketika malam Jum’at tiba, aneka kegiatan pun diadakan. Padahal biasanya malam jum’at adalah malam minggu bagi para santri, dengan kata lain pada malam itu tidak ada bentuk kegiatan apapun. Tetapi, dipondok ini justru terdapat kegiatan yang cukup menarik. Kursus, begitulah mereka menyebutnya. Ada beberapa materi yang dikursuskan. Seperti data yang kami peroleh kursus ini meliputi: kursus tahlil, barzanzi, fiqh, tulis arab pegon, dan kursus pidato.
Dalam kursus tahlil para santri di bimbing bagaimana cara membaca dan memimpin tahlil. Sehingga ketika santri telah pulang ke kampung halamannya dia tidak ragu lagi untuk memmipin tahlil. Karena, terdapat sebuah cerita bahwa ada seoarng santri yang ketika di suruh memimpin tahlil dia tidak bisa. Sehingga dengan kejadian tersebut pengurus pondok mencanangkan diadakan kursus tahlil.
Kursus barzanzi sendiri diadakan bukan karena hal yang khusus, melainkan karena memang untuk mengisi kekosongan waktu dan menyempurnakan kegiatan pondok yang ada. Barzanzi sendiri adalah kegiatan membaca sholawat dan buku maulid Nabi Muhammad SAW. Jadi, kegiatan yang diadakan tidak semua berbau mengaji, harus ada kegiatan yang dapat menghibur diri dan refreshing. Setelah pengurus berpikir akhirnya mereka memilih barzanzi untuk menghilangkan penat para santri.
Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak lepas dari beribadah kepada Allah SWT, salah satunya dengan kita melaksanakan shalat. Sedangkan shalat sendiri memiliki rukun, syarat, dan sunnah, serta terdapat perkara yang membatalkannnya. Karena pentingnya akan hal itu, dan bagaimana cara shalat yang benar, pemikiran tersebut menjadi dasar pemikiran diadakannya kursus fiqh. Kursus ini membahas dan mempraktekkan secara langsung tatacara kita beribadah yang benar sesuai dengan ajaran syara’ yang berlaku.
Kursus terunik di pondok ini adalah pelatihan tulis arab pegon. Maksud dari arab pegon adalah metode menulis bahasa Indonesia / Jawa dengan menggunakan huruf arab. Metode tulis baca arab pegon adalah metode yang diciptakan dan diajarkan oleh Sunan Ampel. Kursus ini diadakan berdasarkan pemikiran bahwa santri harus dapat membaca dan menulis arab pegon. Karena mereka mengkaji kitab kuning sehingga arab pegon juga mendukung pembelajaran kitab.
Yang terakhir adalah kursus pidato. Kursus ini meliputi MC, pembacaan ayat Al-Qur’an, sambutan panitia, sambutan wakil santri, dan orasi. Kesemuanya dikemas dalam satu bentuk acara. Kursus ini begitu penting mengingat santri yang telah pulang kampung kemungkinan besar akan di minta oleh warga masyarakatnya untuk mengisi pengajian tertentu atau menjadi salah satu petugas yang telah disebutkan di atas. Mengingat akan hal itu, maka pengurus mengadakan kursus pidato ini.
Kursus-kursus di atas diadakan setiap malam Jum’at. Namun kurus tersebut tidak dilaksanakan sekaligus dalam satu malam. Kegiatan ini dilakukan terjadwal menurut pasaran yang jatuh pada saat itu. Semisal ketika malam Jum’at Legi maka kursus yang diadakan adalah kursus tahlil, malam Jum’at Pahing diadakan kursus barzanzi, dan malm-malm yang lainnya, yaitu malam Jum’at Pon kursus fiqh, malam Jum’at wage kursus pidato, serta malam Jum’at Kliwon kursus Arab Pegon. Itulah kegiatan kursus mereka yang terjadwal sesuai dengan pasaran yang ada.

1 komentar: